, MANUSELANEWS.COM

Musda Golkar Malteng Ricuh dan Deadlock, Perdebatan Hak Suara Picu Ketegangan

POLITIK

4/23/20261 min baca

MASOHI, MANUSELANEWS. COM. – Musyawarah Daerah (Musda) ke-X DPD II Partai Golkar Kabupaten Maluku Tengah yang digelar di Aula Hotel Launussa Beach, Kamis (23/4/2026) dini hari, berakhir ricuh dan menemui jalan buntu (deadlock). Forum yang diharapkan menjadi ajang konsolidasi justru diwarnai ketegangan tajam antar peserta.

Kericuhan dipicu oleh perdebatan terkait hak suara organisasi sayap, yakni AMPG dan KPPG. Sebagian peserta menginginkan kedua organisasi tersebut tetap memiliki hak suara sebagai bagian dari struktur partai, sementara pihak lain menolak dengan alasan belum adanya Surat Keputusan (SK) yang sah.

Perbedaan pandangan itu berkembang menjadi perdebatan panjang yang sulit menemukan titik temu. Suasana forum pun memanas dengan hujan interupsi dari berbagai pihak.

Ketegangan bahkan sempat memuncak hingga terjadi aksi pelemparan kursi ke arah pimpinan sidang. Situasi nyaris berujung benturan fisik sebelum akhirnya berhasil diredam oleh sejumlah peserta yang berupaya menjaga forum tetap kondusif.

Dalam kondisi yang tidak terkendali, pimpinan sidang akhirnya mengambil langkah tegas dengan menskors jalannya Musda hingga waktu yang belum ditentukan.

Sejak awal, jalannya Musda memang berlangsung dinamis. Mulai dari penentuan pimpinan sidang, pengesahan tata tertib, hingga verifikasi dukungan bakal calon ketua, seluruh tahapan diwarnai perdebatan.

Tiga kandidat yang maju dalam kontestasi, yakni Hasan Alkatiri, Rusbani Silawane, dan Temmy Talaohu, membawa dukungan masing-masing, mencerminkan tingginya dinamika internal partai.

Meski diwarnai ketegangan, Musda ini tetap menyimpan harapan besar bagi kader Golkar Maluku Tengah. Forum tersebut sejatinya menjadi momentum penting untuk memperkuat solidaritas dan merumuskan arah perjuangan partai ke depan.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa perbedaan pandangan merupakan bagian dari dinamika demokrasi, namun harus dikelola secara bijak dan menjunjung tinggi nilai persaudaraan.

Musda memang tertunda, tetapi harapan akan lahirnya kepemimpinan yang mampu mempersatukan kader dan mengembalikan soliditas Partai Golkar di Maluku Tengah tetap terbuka. (MN-01).