
, MANUSELANEWS.COM
Industri Kelapa-Pala Rp640 Miliar Ditargetkan Mulai Dibangun Oktober 2026
DAERAH
9/2/20262 min baca


MASOHI, MANUSELANEWS.COM. – Pembangunan industri hilirisasi kelapa dan pala di Kabupaten Maluku Tengah senilai sekitar Rp640 miliar ditargetkan mulai memasuki tahap pekerjaan fisik pada awal Oktober 2026.
Percepatan pembangunan industri tersebut menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Maluku dan Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah dalam rapat koordinasi yang dipimpin Sekretaris Daerah Maluku, Sadali Ie, di Kantor Gubernur Maluku, Ambon, Selasa (1/9/2026).
Rapat tersebut dihadiri Bupati Maluku Tengah Zulkarnain Awat Amir, Ketua DPRD Maluku Tengah Herry Men Carl Haurissa, perwakilan PTPN 1, Firman’s Group, akademisi, serta sejumlah pimpinan perangkat daerah dan instansi terkait.
Bupati Maluku Tengah Zulkarnain Awat Amir mengatakan, pemerintah daerah terus memberikan dukungan agar investasi industri pengolahan kelapa dan pala dapat berjalan sesuai tahapan yang telah direncanakan.
“Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah akan terus mendukung proses investasi ini, termasuk dalam hal administrasi, perizinan dan kesiapan teknis, sehingga pembangunan fisik dapat dimulai sesuai target,” kata Zulkarnain.
Proyek hilirisasi tersebut sebelumnya telah ditandai dengan groundbreaking oleh Presiden Republik Indonesia pada 29 April 2026. Setelah tahapan persiapan dilakukan, pekerjaan fisik pembangunan ditargetkan mulai berjalan pada awal Oktober mendatang.
Dari total investasi sekitar Rp640 miliar, sekitar Rp500 miliar dialokasikan untuk pembangunan industri pengolahan kelapa, sementara Rp140 miliar untuk industri pala.
Industri kelapa nantinya diarahkan untuk mengolah komoditas kelapa menjadi berbagai produk bernilai tambah, termasuk coconut milk. Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas pengolahan sekitar 600 ribu butir kelapa per hari.
Sementara itu, industri pala akan dikembangkan untuk menghasilkan nutmeg oleoresin, produk olahan bernilai ekonomi yang dapat digunakan dalam berbagai sektor industri, antara lain pangan, kosmetik dan farmasi.
Pembangunan industri tersebut dinilai menjadi langkah penting dalam mendorong hilirisasi komoditas unggulan Maluku Tengah. Selama ini, sebagian besar komoditas perkebunan daerah masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai tambah yang diperoleh petani dan daerah masih terbatas.
Melalui investasi tersebut, rantai ekonomi diharapkan tidak berhenti pada proses produksi bahan baku, tetapi berkembang hingga pengolahan dan pemasaran produk bernilai tambah.
“Yang kita harapkan bukan hanya pembangunan pabrik, tetapi bagaimana keberadaan industri ini memberikan dampak langsung terhadap masyarakat, terutama petani sebagai pemasok bahan baku,” ujar Zulkarnain.
Pemerintah daerah memproyeksikan investasi tersebut dapat membuka sekitar 3.000 lapangan kerja sekaligus menciptakan aktivitas ekonomi baru di berbagai sektor pendukung.
Dampaknya diharapkan tidak hanya dirasakan tenaga kerja yang terlibat langsung di dalam industri, tetapi juga petani kelapa dan pala, pelaku transportasi dan logistik, usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), hingga sektor perdagangan.
Dengan demikian, keberadaan industri kelapa dan pala di Maluku Tengah diharapkan mampu membentuk ekosistem ekonomi baru berbasis komoditas lokal sekaligus meningkatkan daya saing produk daerah di pasar yang lebih luas, termasuk pasar ekspor.
Pemkab Maluku Tengah bersama Pemprov Maluku kini terus melakukan koordinasi untuk memastikan berbagai kebutuhan pendukung investasi dapat dipersiapkan, sehingga target dimulainya pekerjaan fisik pada Oktober 2026 dapat direalisasikan.
Investasi senilai Rp640 miliar itu pun diharapkan menjadi salah satu tonggak penting transformasi ekonomi Maluku Tengah, dari daerah penghasil bahan baku menjadi daerah yang mulai mampu mengembangkan industri pengolahan dan hilirisasi komoditas unggulan.
