, MANUSELANEWS.COM

El Niño Ganggu Musim Tanam Kedua, Distan Malteng Andalkan Irigasi dan Pompanisasi

DAERAH

9/9/20262 min baca

MASOHI, MANUSELANEWS.COM. – Kemarau panjang yang dipicu fenomena El Niño mulai memengaruhi pelaksanaan Musim Tanam (MT) II di Kabupaten Maluku Tengah. Kondisi paling terasa terjadi di sejumlah wilayah yang mengalami penurunan debit air, sementara sentra pertanian yang ditopang jaringan irigasi masih mampu mempertahankan aktivitas tanam.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Maluku Tengah, Arsad Slamat, SP., mengatakan kondisi antarwilayah tidak sama. Seram Utara Timur Kobi relatif aman karena areal persawahan masih mendapatkan pasokan air dari Bendungan Daerah Irigasi (DI) Samal.

Sejumlah desa seperti Wai Asih, Wai Musi, Morokai, Samal, Kobi Mukti dan Leaway masih mendapat suplai air untuk kebutuhan persawahan.

Bahkan, saluran sekunder di Leaway yang mengairi sekitar 400 hektare telah diperbaiki Balai Wilayah Sungai (BWS) dan kini kembali berfungsi.

“Untuk Kobi relatif aman karena masih mendapat suplai dari Bendungan Samal. Saluran sekunder di Leaway juga sudah diperbaiki dan sudah berfungsi,” kata Arsad.

Berbeda dengan Kobi, kondisi ketersediaan air di Seram Utara Timur Seti mulai mengkhawatirkan. Debit air mengalami penurunan sehingga air tidak lagi mampu mengalir secara gravitasi ke sejumlah areal persawahan.

Kondisi tersebut membuat petani harus mengandalkan sumber air alternatif, termasuk irigasi perpompaan dan sumur tanah dangkal.

Dampaknya, jadwal tanam di wilayah Seti yang sebelumnya direncanakan berlangsung September terpaksa ditunda hingga Oktober sambil menunggu ketersediaan air yang lebih memadai.

Meski demikian, sejumlah petani di Desa Wai Musal dan Lopi Mulya telah mulai melakukan penanaman.

Di tengah ancaman kekeringan, kondisi berbeda justru terjadi di Seram Utara Timur Kobi. Luas Tambah Tanam (LTT) mengalami peningkatan dari sebelumnya sekitar 3.000 hektare menjadi lebih dari 4.000 hektare.

Arsad mengatakan peningkatan tersebut salah satunya dipengaruhi semakin tingginya keyakinan petani untuk menanam setelah adanya kepastian penyerapan gabah oleh Bulog.

Menurutnya, kepastian pasar menjadi faktor penting bagi petani dalam mengambil keputusan untuk meningkatkan luas tanam.

“LTT di Kobi justru naik. Dari sekitar 3.000 hektare sekarang sudah 4.000-an hektare. Petani juga semakin yakin karena ada jaminan penyerapan gabah oleh Bulog,” jelasnya.

Arsad menegaskan, dampak El Niño terhadap produksi padi di Maluku Tengah belum dapat dihitung secara pasti karena sebagian tanaman masih dalam tahap penanaman.

Namun, kekeringan tidak hanya berpotensi mengganggu ketersediaan air. Perubahan kondisi lingkungan juga dapat meningkatkan risiko serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura telah mengerahkan petugas lapangan untuk melakukan pemantauan serta menyiapkan stok obat-obatan pengendali hama dan penyakit tanaman.

Langkah tersebut menjadi bagian dari mitigasi untuk menjaga tanaman tetap tumbuh dan mencegah gangguan produksi meluas.

Secara regional, kondisi kekeringan memang mulai menjadi perhatian serius sektor pertanian Maluku. BRMP Maluku pada awal September 2026 juga mencatat dampak kekeringan mulai dirasakan di sejumlah wilayah pertanian dan mendorong penguatan koordinasi dalam menghadapi El Niño.

Sementara itu, BMKG sebelumnya memprediksi puncak musim kemarau 2026 berlangsung pada Juli hingga September, dengan sebagian wilayah Maluku termasuk daerah yang mengalami puncak kemarau pada periode tersebut.

Karena itu, Dinas Pertanian Malteng terus memantau perkembangan ketersediaan air dan kondisi tanaman di sentra-sentra produksi, terutama wilayah yang masih mengandalkan sumber air alami.

Bagi pemerintah daerah, menjaga keberlangsungan MT II menjadi penting untuk mempertahankan produksi pangan sekaligus memastikan petani tidak kehilangan kesempatan tanam akibat perubahan kondisi iklim.